Langsung ke konten utama

Valentine Undercover

VALENTINE PERTAMA
By : Anhar
                Aku bingung sekali. Hidup di kota besar ternyata sangat memusingkan, terlalu banyak aturan tidak tertulis yang harus kutaati. Ketika aturan itu tidak dikerjakan, orang lain pun akan mengecap yang aneh-aneh. Padahal, kota ini sama saja dengan kota yang lain. Mungkin karena menjadi ibukota negara sehingga memiliki perbedaan dengan yang lain. Apalagi, walikotaku sempat memimpin kota ini sebelum akhirnya menjadi presiden republik ini. Ah, betapa lebih tenang hidup di kampungku pinggiran Solo, menikmati udara segar, mendengar kicauan burung, merasakan semilir angin, dan tanpa keributan. Kota ini sudah terkenal dengan segala hingar-bingarnya, kemacetan, udara yang kotor, banjir setiap tahun, ditambah lagi perkelahian antar kampung, antar siswa, bahkan antar ibu-ibu karena masalah yang sepele. Aku rindu suasana kampungku. Namun, apa dayaku? Aku dapat kuliah di kota ini bermodalkan beasiswa yang untuk kebutuhan sehari-hari saja tidak cukup. Akibatnya, aku pun bekerja macam-macam yang dapat dilakukan seoranga mahasiswa hanya untuk dapat bertahan hidup.
            Kebutuhan hidupku pun mulai berubah selama 6 bulan terakhir, sejak aku berpacaran dengan Nova. Entah apa yang terjadi, pertahananku untuk tidak berpacaran akhirnya luruh ketika Nova “menembakku”. Nova seorang gadis cantik, kaya, pintar, primadona kelas bahkan kampus, dan incaran banyak mahasiswa justru menyatakan cintanya kepada seorang mahasiswa kere dengan wajah pas-pasan, berasal dari kampung, tetapi untung saja memiliki otak cemerlang. Seisi kampus pun heboh mendengar berita jadian kami. Aku bingung dengan perasaanku, apakah benar-benar mencintai Nova? Atau hanya sekedar mencari pelarian dari kejenuhan hidup. Yang pasti secara otomatis aku menyediakan budget khusus untuk ngapel di malam Minggu, nonton di bioskop, atau sekedar makan di sebuah restoran fastfood. Tidak mungkin mengajak Nova makan di warteg pinggir jalan, walaupun dia tidak akan menolak. Tetapi, tetap saja aku tidak tega. Nanti kulitnya akan kotor atau tergores sesuatu, akhirnya aku harus memberikan paket perawatan untuknya yang tidak mungkin murah. Berpacaran saja sudah membuatku kerja pontang-panting banting tulang untuk menambah biaya hidup, apalagi harus membayar perawatan kulit Nova.
            Sebenarnya Nova gadis yang baik, dia tidak pernah malu berpacaran denganku yang miskin. Bahkan, aku sering dijemput di kos untuk berangkat bareng ke kampus. Masalahku pun sebenarnya bertambah lagi saat ini karena Nova meminta hadiah yang istimewa untuk perayaan valentine yang hanya beberapa hari lagi. Padahal, aku tidak pernah merayakan valentine seumur hidup, apalagi masyarakat di kampungku pun tidak merayakannya. Menurutku merayakan valentine hanya membuang-buang uang saja selain tidak dibenarkan agamaku. Apalagi ketika melihat dan membaca perayaannya di kota-kota besar ternyata malah menjadi ajang maksiat. Tetapi, sekali lagi entah mengapa aku tidak bisa menolak permintaan Nova, sama halnya dengan permintaannya untuk menjadikanku pacar. Sepertinya otakku sudah tidak dapat berpikir jernih ketika sampai di kota ini, sehingga ego dan nafsuku pun mengambil alih atas segala keputusan yang kubuat. Aku sendiri terkadang bingung dengan pacaran ini, komitmen yang kubuat benar-benar hancur dalam sekejap.
            Lamunanku pun buyar ketika secarik kertas mengenai kepala belakangku. Kutengokkan kepala ke belakang dan kulihat Mardi bertanya kepadaku dengan suara lirih.
“Nova nggak masuk Dan?”
“Aku nggak tahu Mar, hari ini belum sempat sms dia.” Aku pun membalas dengan suara lirih pula.
“Tanyain dong, gue mau minjem catatan lo yang di dia. Lo mah bukannya temen sekosan dulu yang dipinjemin, mentang-mentang dia pacar lo.”
“Iya, gampang itu. Nanti aku sms habis kuliah ya.”
“Ehmmm…” Terdengar dehaman keras dari depan kelas.
“Kalau mau mengobrol, silakan keluar saja sekarang!” Pak Bonar agak mengingatkan dengan suara agak keras. Aku langsung terdiam dan membalikkan kepala ke depan seakan-akan sedang memperhatikan kuliah. Pak Bonar terkenal dosen yang super killer, aku tidak mau berurusan dengan beliau, bisa-bisa beasiswaku akan terancam. Sayangnya, otakku sudah tidak bisa diajak berkonsentrasi memahami rumus-rumus di depan kelas. Aku hanya mencatat tanpa mendengar penjelasan Pak Bonar, nanti saja aku coba pahami sendiri atau bertanya ke kakak tingkat yang lebih paham. Aku segera mengeluarkan handphone untuk mengetahui kabar Nova. Satu sms pun terkirim dengan cepat.
“Hai Sayang, kok nggak kuliah hari ini?”
“Aku lagi bedrest nih di rumah Yang, kecapean habis kejuaraan basket kemarin.” Sms balasan pun segera sampai, Nova pasti sedang menggunakan smartphonenya yang canggih itu untuk menghilangkan bosan di rumah. Sedangkan punyaku masih model jadul yang ketinggalan zaman, whatsapp saja tidak ada. Kami memang berbeda jauh.
“Cepat sembuh ya Yang, aku lagi kuliah Pak Bonar sekarang.”
“Kamu ke rumah dong nanti sore, masa nggak mau jengukin?”
“Oke deh, nanti sekalian jalan ke rumah les privatku.” Tak ada sms balasan lagi, aku pun langsung berpikir untuk membawa apa nanti sore.
“Kalau bawa buah, pasti udah banyak di rumah Nova. Bapaknya juga punya kebun berhektar-hektar. Kalau bawa bunga, nggak mungkin banget. Nanti aku disangka orang gila.” Waktu-waktu akhir kelas Pak Bonar aku habiskan untuk berpikir.
Kelas terakhir kuliahku baru saja berakhir, aku segera berlari menuju kos. Tiba-tiba saja Mardi menarik pundakku dari belakang, secara refleks aku langsung berhenti agar kausku tidak robek.
“Kenapa Mar? Aku buru-buru nih, mau ngajar privat.”
“Santai aja lah Dan, bareng lah kita ke kosan. Lo sama temen sekosan sombong amat sih, emang mau ke mana buru-buru Bro?” Mardi berusaha menyejajarkan diri denganku.
“Aku ada les privat jam 5 nanti Mar, tempatnya agak jauh, makanya harus cepat-cepat.” Aku memberi alasan.
“Masih 2 jam lagi Dan, temenin gue makan dulu lah. Gue traktir nih.” Mardi mencoba membujuk.
“Nanti lah kapan-kapan Mar.” Aku menjawab sambil tersenyum melihat tubuhnya yang sudah semakin menggembung, pantas saja karena hobinya makan.
“Ayolah Dan, lo masih bisa nemenin gue kok. Nggak akan telat juga nanti sampai rumah murid lo, atau lo mau mampir dulu nih ke rumah Nova? bener nggak?” Mardi masih mencoba tanpa kenal lelah.
“Iya Mar, aku mau nengokin Nova dulu sebelum ngajar. Kalau nemenin kamu dulu bisa telat nanti ngajarnya.” Aku pun akhirnya bicara jujur ke Mardi.
“Kamu kok sering bohong sekarang Dan ke gue? Abis jadian sama Nova kayaknya lo agak berubah deh. Jarang ngumpul sama anak kosan, jarang ngobrol, kalau pulang ke kosan langsung tidur deh. Kenapa Dan? Udah nggak asyik lo sekarang.”
“Iya Mar, maafin aku ya. Kamu maklum lah, sekarang biaya hidupku meningkat sejak pacaran sama Nova. Makanya aku harus kerja keras banting tulang Mar, apalagi adekku juga mau masuk SMA tahun ini. Tambah juga beban keuanganku lah.” Aku berusaha menghindari pertanyaan lanjutan dari Mardi.
“Ah, alesan aja lo Dan. Ya udah lah, pergi aja lo sono ke Nova.” Mardi terlihat kesal sekali.
“Maafin ya Mar, aku benar-benar nggak enak sama kamu, teman-teman kosan juga. Tapi, ini semua penting buat aku.” Aku merasa kehilangan Mardi teman karibku sejak menginjakkan kaki di kota ini, aku segera berlalu agar perasaan ini tidak bertambah sakit.
Aku segera mandi dan salat sesampainya di kos, terlihat rumah ini agak sepi. Sepertinya para penghuni masih menyibukkan diri di kampus. Selepas salat aku mengganti baju, napasku tertahan melihat tumpukan baju kotor yang belum sempat kucuci beberapa hari ini. Aku langsung berlari ke ujung gang untuk memberhentikan angkot ke rumah Nova. Aku sampai di depan pintu perumahan Nova sekitar 30 menit kemudian, sore memang waktunya macet di kota ini. Aku mampir sebentar ke sebuah minimarket untuk membeli sebatang cokelat, inilah hasil pikiranku selama kuliah tadi. Aku naik ojek untuk ke rumah Nova karena agak jauh dari depan walaupun harus membayar mahal, daripada aku terlambat untuk mengajar nanti.
Aku membunyikan bel setelah turun dari ojek, kemudian seorang satpam menghampiri.
“Mau ketemu siapa Mas?” Satpam itu bertanya kepadaku. Kebetulan ini adalah pertama kalinya aku ke rumah Nova karena aku tidak pernah mau ketika diajak olehnya dengan berbagai alasan. Tetapi, kali ini alasan apapun sepertinya tidak akan mempan karena dia sedang sakit.
“Maaf Pak, ini benar rumah Nova ya?”
“Mas ini siapanya Mbak Nova?” Satpam itu menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan juga. Aku melirik jam di tangannya untuk melihat waktu, khawatir jadwal mengajarku sudah hampir tiba.
“Saya teman kuliahnya Nova Pak, bilang aja Zaidan.”
“Sebentar saya hubungi Mbak Nova dulu ya lewat intercom.” Satpam itu kemudian menuju pos kecil yang tidak terletak jauh dari pagar. Terdengar suara satpam itu berbicara kemudian segera berjalan kembali ke arahku.
“Oke Mas, silakan masuk. Langsung ke kamar Mbak Nova aja, kebetulan lagi nggak ada orang di dalam” Satpam itu langsung membukakan pintu.
“Maaf, kamarnya Nova di mana Pak?” Aku menggaruk kepala yang tidak gatal.
“Ah iya saya lupa, Mas ini baru sekali ke sini kan ya. Dari pintu depan Mas langsung aja naik tangga yang ke atas, terus nanti belok kiri. Nah, kamar pertama yang Mas lihat itu kamarnya Mbak Nova.” Satpam itu memberikan arahan dengan cepat dan lugas.
“Baik Pak, makasih ya.” Aku segera berjalan masuk.
Kuperhatikan rumah Nova sangat besar, mereka sekeluarga hanya 4 orang. Nova, kedua orang tuanya, dan adiknya lelaki yang agak nakal menurutnya. Aku segera membuka pintu besar yang terbuat dari kayu jati itu perlahan, agar tidak menimbulkan suara yang berisik. Ketika aku melihat isi rumah itu, kekagumanku semakin bertambah. Perabotan di dalamnya bermerek dan berkualitas semua. Sisi lain hatiku merasa minder melihat ini semua. Sebelum aku sesak napas, segera kulangkahkan kaki menuju tangga dengan waspada. Jika ada barang yang tersenggol dan jatuh, maka aku harus puasa lebih dari sebulan sepertinya hanya untuk mengganti. Aku segera berbelok ke kiri ketika sudah sampai di ujung tangga dan melihat kamar yang kutuju. Pintu kamar kuketuk pelan untuk mengetahui keberadaan Nova di dalamnya. Tidak ada jawaban dari dalam, kemudian kuketuk kembali dengan agak keras. Terdengar langkah kaki yang bergerak menuju pintu, lalu pintu tersebut terbuka lebar. Nova tersenyum masih menggunakan piyama tipis yang sudah berantakan, sepertinya tidak diganti dari semalam dia tidur. Namun, kecantikan Nova tetap tidak dapat disembunyikan walaupun mukanya agak pucat. Dalam sepersekian detik darahku terasa agak panas melihatnya hanya sendiri di kamar ini dan rumah ini pun juga kosong sepertinya. Aku berusaha menahan nafsuku yang tiba-tiba ini.
“Masuk dong Yang, ngapain bengong aja di pintu?” Nova memegang tanganku.
“Oh iya.” Aku segera tersadar. “Gimana kabarmu? Masih sakit?” Pertanyaanku seperti hanya basa-basi saja untuk memulai percakapan.
“Udah agak baikan Yang, cuma tinggal pusingnya aja nih sedikit. Semalam aku demam tinggi, kamu kok nggak telepon aku?”
“Semalam aku kecapean Yang, maklum kejar setoran nih.” Aku tersenyum kecil.
“Gimana kado valentine aku? Kamu udah nyiapin belum? Tinggal dua hari lagi lho.” Nova langsung mengganti topik pembicaraan yang membuatku agak kaget, tetapi langsung kuhilangkan rasa kaget di wajah dengan tersenyum.
“Tenang aja Yang, aku udah nyiapin hadiah paling istimewa deh. Kamu nggak akan kecewa pokoknya.” Aku menjawab dengan yakin agar Nova tidak curiga. Obrolan kami pun berlanjut mengenai berbagai macam hal, dari mulai kuliah, kegiatanku, keluarga, rencana valentine lusa, dan lain-lain. Aku pun sempat menyuapi Nova makan sore. Kami tertawa bareng, serasa beban hidupku hilang jika sedang bersamanya. Kemudian aku tersadar harus segera pergi untuk mengajar.
“Yang, aku baru inget nih harus ngajar. Aku pamit dulu ya, masih kekejar sekarang.” Aku segera menyiapkan diri untuk pamit.
“Kamu naik apa tadi ke sini?”
“Aku naik angkot sama ojek Yang, nggak ada motor di kosan yang bisa dipinjem.”
“Kalau gitu, aku suruh Pak Gino untuk manggil ojek dulu ya, kamu tunggu aja di depan pintu.”
“Oke deh.” Aku langsung mengiyakan karena waktu yang semakin sempit.
Aku pun berjalan keluar kamar mengikuti Nova. Ketika sampai di pintu depan ternyata sudah ada ojek yang menunggu.
“Aku pergi ya Yang, kamu jangan lupa makan biar cepet sembuh.”
“Iya, tenang aja Yang.” Nova memberikan kecupan di pipi kananku, aku agak salah tingkah dan sesuatu berdesir di hati. Aku segera naik ke motor agar tidak ada yang sadar dengan maluku, kukatakan tujuanku kepada tukang ojek. Walaupun sudah mengebut dan menyelip-nyelip di antara kemacetan jalan, takdirku harus tetap telat ke rumah muridku. aku cepat-cepat turun dari motor dan membayarnya tanpa tahu betapa mahalnya harga ojek ini.
Assalaamu’alaikum…” Kuucapkan salam dengan tergesa-gesa.
Wa’alaikumussalaam… Loh Mas Zaidan kok baru datang sekarang sih? Anak saya udah ngambek nggak mau les lagi sama Mas. Katanya dia nggak ngerti apa yang Mas jelasin. Lagipula ini udah kelima kalinya Mas telat datang.” Ibu muridku menyambut dengan muka yang tidak bersahabat.
“Mohon maaf Bu, tadi saya ada keperluan mendadak yang penting sekali habis kuliah. Ada teman…”
“Sudah, nggak usah buat alasan lagi Mas.” Ibu itu langsung memotong ucapanku yang belum selesai. “Mas nggak usah ngajar anak saya lagi, ini upah Mas bulan ini saya bayar aja.”
“Terima kasih Bu.” Aku tidak dapat mendebat Ibu itu lagi dan langsung menerima amplop yang disodorkannya.
Hari ini menjadi kesialan bagiku, satu murid les private meminta untuk berhenti. Aku berjalan lesu menuju tempat angkot berhenti untuk menunggu penumpang. Aku menutup mata selama angkot berjalan berusaha untuk tidur. Tetapi, otak ini tidak mau istirahat karena berpikir hadiah apa untuk Nova lusa nanti. Ketika angkot sampai di depan gang menuju kos, aku segera turun dan berlari kecil. Aku sudah kalut dan letih, ingin segera merebahkan badan di kasur.
Sesampainya di kos, langit sudah mulai gelap. Aku segera mandi dan salat maghrib. Selesai salat, aku berjalan menuju kamar Mardi. Kuketuk pintu kamarnya dengan pelan karena merasa tidak enak dengan kejadian tadi sore.
“Mar, kamu ada di dalam? Aku boleh masuk nggak?”
“Masuk aja Dan, nggak dikunci.”
Aku membuka pintu dan masuk, “Lagi ngapain Mar?” Aku membuka percakapan.
“Gue baru aja selesai makan, lo udah makan?” Mardi tersenyum menawarkan.
“Aku nggak laper Mar, hari ini udah bikin aku kenyang sama masalah.” Senyumku kecut sekali ke Mardi.
“Udah makan sana, nanti repot kalau lo sakit juga. Siapa yang ngurus? Pacar lo aja udah sakit. Mumpung masih ada nasi sama lauknya tuh.” Mardi menunjuk ke lauk yang tersisa.
“Aku laper juga ngelihatnya Mar.” Aku tertawa kecil. “Aku mau curhat juga nih Mar. Kira-kira aku harus ngasih hadiah apa ya ke Nova untuk valentine lusa nanti? Aku pusing banget nih, ditambah murid privatku juga berenti satu orang.”
“Oh, jadi ini yang bikin lo pusing Dan? Besok kita cabut kuliah aja yuk, gue bantuin lo nyari hadiah. Tapi, gue juga bingung sih. Apaan yang si Nova nggak punya ya? Secara dia orang tajir banget, kayaknya punya semua deh. Lo ada budget berapa?”
“Aku nggak nyiapin budget apa-apa Mar, tapi yang aku pegang cuma satu juta aja nih dari fee ngajar yang udah berenti tadi.”
“Gimana kalau lo bikin makan malam istimewa aja, kayaknya cukup deh uang segitu. Cari yang sederhana aja, gue bantuin besok.” Mardi memberikan usul yang lumayan bagus.
Aku yang sudah tidak bisa berpikir langsung setuju, “Boleh lah Mar, aku udah pusing banget mikirin hadiah itu.” Aku pun melanjutkan makan dan kami mengobrol sampai tengah malam.
Keesokan harinya, aku dan Mardi keliling kota ini mencari restoran yang dapat dipesan untuk acara di rumah. Nova ingin merayakan valentine di rumah saja, dia juga menyiapkan hadiah istimewa untukku. Kami berkeliling sampai sore dan akhirnya menemukan restoran yang sesuai dengan budgetku. Kemudian aku membayar uang panjar dan membuat jadwal buat besok malam. Kesepakatan segera tercapai, hatiku pun agak sedikit gembira karena aku dapat memberikan hadiah buat Nova. Aku pun langsung pulang dengan Mardi dan ingin segera beristirahat menyambut hari esok.
Esok harinya, wajahku cerah dari pagi. Aku pun berangkat ke kampus pagi sekali karena ada kuliah jam 7 pagi. Aku segera ke kamar Mardi untuk mengajaknya berangkat bareng.
“Lo seneng banget hari ini Dan? Udah nggak sabar ya buat nanti malam?” Mardi tersenyum kecil.
“Ya gitu lah Mar, maklum baru pertama kali.” Aku juga tersenyum dan bersiul. Kami melangkah dengan ringan menuju kampus. Aku mengikuti kuliah dengan semangat dan ternyata Nova belum masuk juga. Tidak lama kemudian hp-ku bergetar dan ada sms dari Nova. Dia mengatakan bahwa hari ini bolos saja karena tidak ada orang juga di rumahnya. Aku membalasnya dan mengatakan bahwa nanti sore akan datang orang-orang yang akan menyiapkan hadiahku.
Kuliah berlalu dengan cepat, aku sudah di kamar kos untuk menyiapkan diri. Tiba-tiba Mardi masuk.
Aku segera bertanya, “Gimana Mar? Udah keren belum?”
“Keren abis Bro, tapi ada yang masih kurang nih. Badan lo masih bau, nggak punya parfum ya?” Mardi senyum kecut ketika membaui badanku.
“Udah habis Mar, belum sempat beli.”
“Pake puny ague aja, sebentar gue ambil di kamar ya.” Mardi kembali ke kamanya dan mengambil parfum. Kemudian dia menyemprotkan parfum itu ke bajuku. Aku sekali lagi melihat penampilanku di kaca dan merasa yakin tidak ada yang terlewat. Aku tersenyum ke Mardi dan segera menuju pintu keluar kos.
“Sukses ya Bro, cerita-cerita lah nanti.”
“Sip Mar, nanti aku certain lah.” Aku segera menstarter motor yang kupinjam dari teman di kos ini.
Aku berjalan dengan pelan agar dandananku tidak menjadi berantakan. Kuberhenti sebentar di took bunga untuk membeli mawar, ini sisa fee-ku yang terakhir. Habis sudah semuanya untuk hadiah valentine malam ini.
Tidak berapa lama kemudian aku sampai di rumah Nova, satpam langsung membukakan pagar. Aku pun langsung masuk menuju taman yang terletak di samping karena orang dari restoran ada di sana. Aku membayar sisa biaya dan memberitahukan kalau mereka dapat membereskannya sekitar jam 11. Aku duduk di kursi menunggu Nova yang belum muncul. 5 menit menunggu, pintu rumah besar itu terbuka dan tampak Nova keluar dengan menggunakan gaun merah yang tipis. Hasratku berdesir melihatnya. Aku segera menyambutnya dan mempersilakan duduk.
“Kamu cantik sekali Yang mala mini seperti mawar yang kubawa ini.” Aku memulai acara malam itu dengan pujian.
“Terima kasih ya, makan mala mini istimewa sekali. Ayo kita makan, hadiah untukmu ada di kamar, nanti saja setelah makan.” Nova tersenyum manis.
“Baiklah.” Nafsuku sedikit menggelora melihatnya.
Kami pun makan malam sambil berbincang-bincang ringan. Ternyata orang tua Nova sedang ke luar negeri untuk mengurus sebuah bisnis, sedangkan adiknya sedang ada acara di rumah temannya. Kami cepat menyelesaikan makan malam itu karena Nova ingin segera memberikan hadiah untukku. Setelah selesai, Nova mengajakku ke kamarnya, aku ikut saja. Sesampainya di kamar, Nova bilang ingin buang air kecil dahulu dan memintaku menunggu di ranjang saja. 10 menit berlalu dan Nova keluar dari kamar mandinya. Ternyata dia berganti baju, sekarang memakai piyama yang sangat tipis dan transparan. Nafsuku segera bergolak melihatnya.
“Ini hadiahku untukmu Yang, kamu mau kan menikmati tubuhku malam ini.” Nova mendekati pintu dan menguncinya. Aku masih terdiam melihat kemolekan tubuhnya.
“Kamu serius Yang? Kalau nanti hamil gimana?” Aku menyimpan sedikit rasa takut.
“Udah tenang aja Yang, itu nggak akan terjadi. Ayo dong buka bajumu.”
“Kamu bener nggak akan hamil?” Aku masih belum yakin.
“Iyalah, aku udah tau caranya biar nggak hamil.”
Dalam hati aku berteriak girang, “Oke aku buka baju ya.”
“Cepat dong Yang, udah nggak kuat nih.”
Aku mempercepat membuka baju, tetapi kita baju itu sulit dibuka tiba-tiba lampu mati, “Yang kamu di mana? Kok lampunya mati sih?” Aku agak kalut karena khawatir dituduh ingin melakukan pemerkosaan, padahal ini atas dasar suka sama suka. “Yang, kamu di mana?” Aku semakin takut karena tidak ada jawaban apa-apa.
Tiba-tiba saja, byuurrrr… Seember air membasahi bajuku. “Woy… Bangun Dan! Udah pagi nih!” Suara khas Mardi terdengar.
Aku kaget dengan semburan air dan segera memicingkan mata. Ah, bagaimana aku bisa berada di kamarku? Bukannya aku sedang berada di kamar Nova? “Aku di mana ini Mar?” Pertanyaan terlontar dari mulutku.
“Lo ada di kosan Dan sekarang, ini kamar lo. Abis subuh tadi lo tidur lagi. Mimpi apa sih lo? Kok gue kayak denger desahan terus lo manggil-manggil Nova gitu. Pasti mimpi jorok lo ya?”
“Bukan mimpi apa-apa kok Mar, kamu salah denger kayaknya. Aku mimpi biasa aja.” Aku mengelak tuduhan Mardi dengan memasang wajah datar tanpa ekspresi. Dalam hati aku bersyukur bahwa semua kejadian itu hanya mimpi. Setidaknya aku selamat dari maksiat dan perayaan valentine yang tidak ada di agamaku. Aku pun masih memegang prinsipku untuk tidak berpacaran. Terima kasih Tuhan. Aku tersenyum lebar.


Postingan populer dari blog ini

Do’akan Yang Baik-baik Saja

Jika kita pernah disakiti orang lain pasti sampai kapan pun akan teringat kejadian itu. Sakit hati karena lisan atau perbuatan orang lain. Tetapi, sering kah kita ingat kalau pernah menyakiti orang lain? Atau sadar kah jika kita pernah atau mungkin sering menyakiti hati orang lain karena ucapan dan tindakan? Seringnya kita tak sadar ya, padahal jika ada orang lain yang sakit hati karena perbuatan kita akan berdampak buruk terhadap kehidupan kita selanjutnya. Kenapa? Mana tahu saat orang tersebut merasa tersakiti lalu ia diam-diam ia mendoakan kita dengan doa yang tidak kita kehendaki, bukan bermaksud mengajak su’uzon terhadap orang lain, tetapi justru mengajak lebih berhati-hati dalam bertindak, bersikap dan berucap.             Berbicara atau bersikap dengan siapa pun memang harus hati-hati, baik dengan teman, sahabat, kerabat bahkan dengan keluarga sendiri di rumah. Sering kali kita dalam kondisi tertentu emosi tak terkendali, mungkin karena ada satu masalah yang menghinggapi pikiran…

Antara Novel Dan Film Pesantren Impian

Kemarin siang nonton filmnya mba Asma Nadia “Pesantren Impian”. Penasaran pengen nyamain ceritanya dengan di Novel. Baca novelnya saya terkagum-kagum dengan ide cerita yang dituangkan di buku itu. Salut saya dengan mba Asma Nadia bisa menulis novel misteri seperti itu.             Saat mendengar novel itu akan difilmkan saya sangat antusias dan tak sabar menunggu tayangannya di bioskop. Saya bayangkan jika novel itu difilmkan akan sangat mengasyikan, seru...tegang pastinya, dan yang bikin saya penasaran ingin tahu siapa saja tokoh-tokoh yang cocok untuk berperan dalam cerita itu, keindahan alam Aceh dan lokasi Pesantren yang luas dan nyaman sesuai yang diceritakan dalam novel itu.             Dalam novel tokoh utama yang di ceritakan adalah si Gadis yang akhirnya meraih kebahagiaan menikah dengan Umar sang pewaris Pesantren tersebut. Lalu ada tokoh Rini yang banyak juga memainkan peran dalam novel itu. Di akhir cerita novel puncak konflik dimainkan Rini dan Pakliknya begitu …

Workshop Perdana KMO Indonesia

Alhamdulillah untuk pertama kalinya KMO (Kelas Menulis Online) yang digawangi oleh Coach Tendi Murti setelah hampir 1,5 tahun berdiri mengadakan workshop kepenulisan untuk umum. Acara kali ini diadakan hri Minggu 27 Maret 2016 di kampus bisnis Umar Usman Warung Buncit Jakarta Selatan. Peserta yang hadir melebihi yang ditargetkan, kurang lebih 40 orang mengikuti acara ini. 50% peserta yang hadir adalah para muslimah dari komunitas Muslimah Millionare sedangkan sisanya berasal dari anggota KMO dan masyarakat umum.

Acara demi acara berjalan lancar dan tentu saja menarik. Diawali pembukaan yang segar oleh founder KMO coach Tendi Murti lalu dilanjutkan dengan sharing-sharing sejarah KMO oleh Tim Inti KMO Indonesia yaitu oleh saya sendiri Rina Maruti Widiasari selaku Tim KMO Divisi Academy dan Ernawati Lilys tim KMO dari Divisi Media.

Pembukaan yang cukup hangat dan akrab membuat suasana workshop makin menyenangkan dan para peserta sangat antusias untuk mengikuti acara ini hingga akhir. Ses…