Langsung ke konten utama

Mencari Ide Menulis dengan Mudah

Bagi sebagian orang, menulis adalah salah satu kegiatan yang menyenangkan. Dengan menulis apa yang terjadi di sekitar kita, bisa dituangkan menjadi sebuah cerita. Selain itu menulis juga bisa menjadi salah satu terapi jiwa bagi orang yang sedang dalam tekanan masalah. Silakan saja Anda membuktikan jika sedang galau, bahagia, kesal, stress, bete dan sebagainya, pasti akan langsung menulis status di sosmed kan? Nah itu merupakan salah satu contoh bahwa menulis itu bisa menumpahkan emosi yang sedang tidak stabil dan bisa dilakukan setiap orang.

Jika saat ini Anda sedang belajar menulis, banyak hal yang harus dipelajari untuk menjadi penulis yang bisa diterima oleh masyarakat luas. Beberapa hal di bawah ini bisa menjadi tips bagi Anda yang sedang giat-giatnya belajar menulis untuk mencari ide:


1. Wajib Baca Buku
Membaca adalah kewajiban mutlak bagi setiap penulis, tanpa membaca seorang penulis akan kesulitan menuangkan ide-idenya. Membaca dan menulis adalah satu paket yang tidak bisa dipisahkan. Semakin banyak membaca ide menulis akan semakin lancar mengalir dan gaya bahasa tulisan juga akan semakin enak dibaca.

2. Banyak Melihat Alam Sekitar.
Maksud melihat alam sekitar adalah,  cobalah amati lingkungan sekitar Anda. Atau, saat jalan-jalan, tidak harus yang jauh-jauh keluar kota. Anda bisa kok jalan-jalan di dalam kota, atau keliling kompleks rumah saja pasti akan selalu ada bahan tulisan, bahkan di mall pun banyak yang dilihat dan bisa dijadikan ide tulisan.


3. Pengalaman Sendiri
Kita tentu punya banyak kejadian yang sudah dialami kan selama hidup? Baik yang manis maupun pahit. Pengalaman hidup bisa menjadi bahan tulisan yang menginspirasi banyak orang. Tak perlu takut bahwa peristiwa yang kita alami tidak penting untuk ditulis, niatkan berbagi hal positif dari pengalaman tersebut.

4. Curhatan
Ide lain yang menarik untuk dijadikan tulisan adalah curhatan atau pengalaman hidup orang lain. Semua peritiwa yang orang lain ceritakan bisa menjadi bahan pembelajaran, karena belum tentu semua orang mengalaminya.

5. Menonton Film
Alur cerita film merupakan salah satu cara mudah untuk melahirkan ide tulisan. Anda bisa meresensi film tersebut lalu hasil resensi tersebut dikirim ke media cetak atau media online, bisa jadi sumber penghasilan loh, asyik kan?

6. Ajaran Agama
Banyak topik yang bisa kita bahas dalam tulisan kita yang bersumber dari ajaran agama. Tentu saja jika akan membahas masalah yang berkaitan dengan agama harus didukung dalil-dalil yang kuat, sehingga tidak menimbulkan permasalahan akibat tulisan itu.

7. Skill yang Dimiliki
Jika Anda memiliki sklill tertentu, itu merupakan sumber ide yang tak ada habisnya. Misalnya Anda ahli di bidang fesyen, kuliner, kesehatan, dan banyak hal lain yang bisa dibahas untuk memberikan tips dan trik dalam bidang tersebut.

Banyak yang mengeluh, ingin menulis tapi bingung memulainya. Supaya tidak bingung, mulailah dari sekarang dan ikuti tips-tips di atas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Do’akan Yang Baik-baik Saja

Jika kita pernah disakiti orang lain pasti sampai kapan pun akan teringat kejadian itu. Sakit hati karena lisan atau perbuatan orang lain. Tetapi, sering kah kita ingat kalau pernah menyakiti orang lain? Atau sadar kah jika kita pernah atau mungkin sering menyakiti hati orang lain karena ucapan dan tindakan? Seringnya kita tak sadar ya, padahal jika ada orang lain yang sakit hati karena perbuatan kita akan berdampak buruk terhadap kehidupan kita selanjutnya. Kenapa? Mana tahu saat orang tersebut merasa tersakiti lalu ia diam-diam ia mendoakan kita dengan doa yang tidak kita kehendaki, bukan bermaksud mengajak su’uzon terhadap orang lain, tetapi justru mengajak lebih berhati-hati dalam bertindak, bersikap dan berucap.             Berbicara atau bersikap dengan siapa pun memang harus hati-hati, baik dengan teman, sahabat, kerabat bahkan dengan keluarga sendiri di rumah. Sering kali kita dalam kondisi tertentu emosi tak terkendali, mungkin karena ada satu masalah yang menghinggapi pikiran…

Sudahkah Mengenali Mesin Kecerdasan Si Buah Hati?

Setiap anak terlahir dengan keunikannya masing-masing. Seiring berjalan waktu kemampuan anak akan tumbuh sesuai dengan didikan orangtuanya, ditambah pengaruh lingkungan, dan bibit kecerdasan yang ia bawa sejak lahir yang diwariskan dari orangtuanya. Dibutuhkan kerjasama yang baik antara keduanya agar keinginan dan harapan orangtua sesuai pula dengan kemampuan dan kecerdasan anak. Jadi, sang anak melakoni hidupnya, terutama saat menjalani proses belajar di sekolah dan lingkungannya, ia tidak merasa memiliki beban berat, akan tetapi akan dijalaninya dengan penuh rasa tanggung jawab karena sesuai dengan kemampuan dan kecerdasannya.

Ada baiknya saat anak memasuki pendidikan usia dini, para orangtua sudah mengetahui mesin kecerdasan yang dimiliki oleh si buah hati. Mengapa harus mengenal mesin kecerdasan anak? Karena dengan mengenali berbagai macam jenis mesin kecerdasan itu, kita sebagai orangtua akan lebih mudah mengarahkan anak-anak untuk meraih masa depannya sesuai dengan bekal kecerda…

Orangtua Cerdas, Anak Cerdas

Siapa yang tidak ingin memiliki anak cerdas dan sukses di masa depannya? Cerdas bukan berarti harus selalu menjadi juara pertama di kelas. Kecerdasan tidak bisa diukur dari angka kognitif. Setiap anak punya keunikan masing-masing dengan kepribadiannya. Tetapi pada kenyataannya orang tua sering terjebak dengan angka-angka di buku raport dalam mengukur kecerdasan si buah hati. Padahal kecerdasan anak itu tidak selalu dari kognitifnya, bisa juga dari psikomotor, interpersonal, emotional, dan sebagainya.
            Membentuk kecerdasan anak tentu saja dimulai dari rumah, terutama sejak dari dalam kandungan. Anak cerdas sudah pasti terlahir dari orang tuanya yang cerdas. Tetapi anak yang masa depannya sukses tidak selalu terlahir dari orang tua yang sukses. Jika ingin memiliki anak cerdas, orangtuanya dulu yang meng-upgrade diri supaya cerdas dan menjadi role model anak-anak, berikut beberapa cara sederhana membekali kecerdasan untuk diri sendiri sekaligus anak-anak:
1. Komunikasi Anak-…