Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2021

Cerdas Menggunakan Media Sosial

       Lima belas tahun terakhir, perkembangan media sosial di dunia berkembang amat pesat, termasuk Indonesia. Komunikasi semakin mudah, tak kenal jarak dan waktu. Kapan pun dan di mana pun selagi kuota internet terisi, maka kita akan dengan mudah mengakses segala macam informasi dari belahan bumi manapun.         Positifnya, masyarakat kita jadi sangat melek teknologi, dampak buruknya tentu saja banyak. Salah satunya, jika kita tidak bisa mengendalikan diri, maka akan kecanduan gawai yang isinya berbagai macam aplikasi media sosiai. Berbagai aplikasi itu memang sangat menarik, sehingga bisa menyita waktu dan membuat kita tidak produktif, karena menghabiskan waktu berjam-jam menatap gawai menikmati berbagai sajian media sosial.         Tidak bisa dipungkiri, sebagain besar masyarakat kita sudah kecanduan gawai dan sulit lepas dari alat canggih segenggaman tangan itu. Agar kita tetap waras dan produktif dalam bersosmed maka, kita harus berupaya semaksimal mungkin mengendalikan diri

Lombok yang Unik

Tahun 2018, boleh dibilang tahun travelling bagi saya karena dalam satu tahun itu, saya mengunjungi beberapa kota yang cukup jauh diantaranya Lombok dan Minangkabau. Dua tempat yang sudah lama sekali ingin saya kunjungi, dan alhamdulillah tercapai. Semoga saja tempat-tempat lain di Indonesia yang saya inginkan sekali ke sana, bisa segera saya kunjungi pula.         Kali ini saya akan bercerita sedikit saat travelling ke Lombok bersama rombongan teman sejawat mengajar. Bisa dibayangkan, kan serunya bepergian jauh dengan rekan kerja? Satu pesawat terisi kurang lebih 80% oleh rombongan kami, sisanya penumpang umum. Jarang-jarang banget kami bisa bepergian sejauh itu bersama-sama.          Lombok terkenal sebagai tempat yang indah, salah satu destinasi wisata favorit bagi wisatawan lokal maupun asing selain Bali. Keindahan pantai-pantainya sudah terkenal ke mana-mana. Sudah lama pula saya ingin sekali bertandang ke pulau tersebut. Apalagi setelah membaca salah satu novel Tere Liye yang ber

Sayangi Dirimu Sendiri

        Hidup ini tak semulus kulit bayi, tak selancar aliran air di sungai ciliwung. Setiap orang pasti mengalami berbagai macam kejadian dalam hidupnya. Pahit manis, sedih gembira, susah senang, sempit dan lapang. Dalam setiap naik turunnya kehidupan, ada yang mudah dilewati, ada yang berat, bahkan sangat berat, tak sedikit yang mengalami stress bahkan depresi karena tak kuat menghadapi beratnya ujian hidup.         Meratapi kesulitan atau kesedihan hidup bukanlah solusi terbaik untuk keluar dari semua permasalahan hidup. Tidak mudah memang untuk menata hidup kembali jika Anda pernah mengalami kepahitan yang mungkin sangat melukai hati. Bukan hal yang tidak mungkin juga untuk melewati semua kesedihan, kepahitan ujian itu untuk kembali meraih bahagia. Sumber gambar: Unsplash.com         Sering sekali ya kita mendengar atau membaca kalimat,  Bahagia itu kita yang menciptakan.          Yes , jika kita ingat-ingat lagi bahwa Tuhan menciptakan segala sesuatu di dunia ini berpasang-pasan

Teman yang Menyenangkan

  Sebagai mahluk hidup manusia butuh berteman, jangankan manusia hewan saja butuh teman agar hidupnya tidak kesepian, dan juga untuk beranak pinak. Omong-omong tentang teman, tentunya kita punya banyaaak sekali teman. Mulai dari teman masa kecil hingga sekarang di usia dewasa. Kalau saya bukan dewasa lagi, tapi tua … hehe. Apalagi sekarang, kemajuan teknologi berkembang pesat, membuat jalinan pertemanan semakin meluas hingga ke seluruh dunia. Teknologi membuat kita dan teman-teman seakan tanpa batas dalam berkomunikasi. Dalam arti, jarak yang membentang jauh menjadi dekat dan mudah untuk saling berinteraksi. Namun, dibalik kemudahan itu, pastinya akan banyak pula risiko dan efek negatif dalam berteman seiring bertambahnya jaringan pertemanan kita. Dulu, kita sering mendapat pesan dari orang tua dan para guru agar hati-hati dalam berteman, harus pilih-pilih teman agar kita tidak terbawa pergaulan buruk jika si teman itu membawa pengaruh yang kurang baik. Ternyata hal tersebut tida

Bisa Memasak adalah Kebanggaan

         Sebagai seorang perempuan yang pernah menjalani pernikahan selama 20 tahun, dan kini sebagai seorang ibu dari dua anak yang satu menjelang dewasa dan satu lagi usia remaja, dan cukup kenyang dengan asam garam pernikahan, salah satu kebanggaan yang saya rasakan adalah bisa memasak walau hanya masakan-masakan sederhana untuk keluarga tercinta. Seorang perempuan akan sangat bahagia jika hasil masakannya dilahap dengan penuh semangat oleh suami dan anak-anaknya tercinta, kemudian mereka melontarkan ucapan,       “Masakan Bunda, enaaaaak banget.” Atau ucapan semacam ini,        “Bun, nanti bikin lagi ya makanan seperti ini.”             Receh sangat, tapi itu begitu berarti dan menjadi penyemangat seorang ratu rumah tangga untuk terus menyiapkan berbagai hidangan sehari-hari yang dibutuhkan keluarganya.        Setiap keluarga biasanya memiliki masakan atau makanan favorit. Dalam memasak, bagi saya pribadi tak ada istilah yang salah, baik dari segi pengolahan maupun bumbu-bumbu ya